Adikku Pemuasku 2
Gue melihat adikku ini hanya bahunya saja karena memang inilah gaya
tidurnya. Masih jelas diingatan gue, adik gue ini suka tidur dengan kaos
dan short. Itulah yang membuatnya tidak menggairahkan dan seksi karena
tidak ada sesuatu yang tersingkap. Kalau saja dia memakai daster, pasti
akan seksi banget melihatnya dia tidur. Tapi semua itu tidak membuat
pikiran kotor dari kemarin, luruh dengan sendirinya. Bisa satu ranjang
dengan seorang wanita, siapapun itu orangnya, adalah anugrah dan
menimbulkan sensasi. Tapi cukup waktu lama untuk mengambil keputusan
agar merapat mendekat kepada tubuhnya. Karena hal ini tetap harus
diperhitungkan. Kalau pagi hari menyentuhnya itu karena ada alasan
ritual memegang telinga pada awalnya tetapi pada malam ini, apa
alasannya untuk menyentuhnya? Tetapi otak ini berlogika, tidak mungkin
dia tidak tahu apa resikonya mengajak kakak tirinya ini tidur satu
ranjang sepanjang malam ini kalau dia tidak mempertimbangkan apa yang
sudah terjadi pada hari-hari sebelumnya. Seharusnya, dia pasti sudah
mengambil resiko dengan apa yang akan dibuat oleh kakaknya pada malam
ini. Mungkin dia berpikir, lebih takut kepada setan ditengah malam ini
daripada takut kepada kakak tirinya yang sudah jelas-jelas memiliki
nafsu birahi kepada adiknya sendiri. Dimulailah per jalanan yang
menegangkan malam itu. Pertama, gue hanya menyentuh pinggangnya dengan
tangan tanpa melakukan gerakan apa-apa. Ini hanya mau menguji, apakah
dia mau menolak atau hanya berdiam saja. Sumpah, jantung gue memompa
dengan keras karena harus mengalirkan darah dengan cepat ke penis yang
mulai ereksi dan otak yang mulai tegang. Untuk sekian lama dia hanya
berdiam diri saja. Apakah memang benar-benar sudah tertidur, atau
pura-pura tidak perduli dengan tangan yang ada dipinggangnya? Ini
membuat gue semakin tegang karena sudah akan menambah sentuhan ke
jenjang yang lebih tinggi. Kali ini tangan gue mulai memegang lengan
tangannya dan merapatkan tubuh semakin dekat. Kemudian mulai memberikan
kecupan ringan dibagian punggungnya yang terilindung oleh kaos yang
digunakannya. Tidak ada reaksi untuk sekian saat. Dan itu semakin
membuat gue berani untuk melakukan hal lainnya. Jemari tangan sekarang
mulai turun kebawah dan mengelus paha sampingnya sambil mulai meremas
pantatnya, sesuatu yang belum pernah gue lakukan sebelumnya. Terus
kecupan-kecupan singkat dilayangkan dibagian punggungnya sambil tangan
terus menggerayangi bagian pahanya. Sesudah dirasa cukup waktunya,
akhirnya gue menarik pelan tubuhnya yang menyamping itu agar menjadi
posisi terlentang. Gue menghindari untuk melihat wajahnya secara
langsung meskipun kamar dalam keadaan gelap jadi yang gue lakukan adalah
langsung membenamkan kepala kebagian bawah tubuhnya, tepatnya dibagian
paha kebawah, sembari terus memberikan kecupan-kecupan kering (maksudnya
tidak pake lidah ciumnya) sudah pasti dia kegelian karenanya tapi gue
masih tidak pasti apakah dia kegelian dalam tidurnya atau memang sudah
terjaga dari tadi. Itu tidak penting untuk mengetahuinya, yang penting
adalah sejauh ini adik gue tidak mengadakan penolakan terhadap aksi gue
itu. Dan selanjutnya gue sudah mulai berani merangsek kebagian atas. Gue
tetap menciumi seluruh bagian tubuhnya yang tertutup short dan kaos.
Tapi ciuman itu tidak mengurangi sensasi yang gue rasakan dan tentunya
yang dirasakan olehnya. Apalagi ketika gue sudah tiba dibagian
payudaranya, gue menggigit dengan pelan, meski tertutup kaos dan bra,
tapi dia bisa merasakan sentuhan kecil ini karena sementara tangan gue
juga menelusuri bagian selangkangannya dengan jemari gue ini. Ada suatu
saat ketika gue menekan shortnya dibagian yang gue rasa itu adalah
posisi vaginanya berada, dan yang terjadi adalah, desahan pelan yang
membuat gue semakin berani. Tapi tetap gue belum bertatapan langsung
dengan matanya karena gue sibuk membenamkan kepala gue diantara dua
payudaranya. Gue tetap takut untuk melihat dia secara langsung. Badan
gue ini saja masih belum berani untuk menindihnya seperti pagi-pagi
sebelumnya. Gue bener-bener mau semua berlangsung dengan lembut dan
menggairahkan dirinya untuk menikmati sentuhan selanjutnya. Dan setelah
berlangsung cukup lama foreplay tersebut, gue mulai menaikkan kepala gue
untuk langsung pergi kearah lehernya. Tetap gue hanya melihat secara
sejenak bagaimana adik gue memeramkan matanya dan gue menikmati hal
tersebut, karena kita berdua seakan-akan secara tidak langsung
mengatakan: ini bukan hubungan adik dan kakak. Ini bukan hubungan
terlarang. Ini hubungan yang saling memberi kenikmatan satu kepada yang
lainnya. Dimulailah penjelajahan terhadap lehernya. Dia menggelinjang
setiap gue mengecup dia dengan kecupan basah (ini baru pake lidah gue)
dan sementara tangan gue tetap menjelajah bagian tubuh lainnya, karena
sekarang sudah naik ke payudaranya (gue menghindari menekan terlalu lama
bagian vaginanya karena takut nanti dia sudah kehilangan
sensivitasnya). Tentu saja tangan gue tidak mau berlama-lama dipisahkan
dengan kaos dan bra, sehingga jemari langsung menyelusup masuk ke bagian
dalam kaosnya (dan gue menghindari tergesa-gesa untuk membuka kaosnya,
sampai merasa yakin banget dia sudah terlena dengan sentuhan gue) jemari
gue langsung mengangkat keatas bra dan langsung meremas payudaranya
dengan lembut sementara bibir sudah mulai naik kebagian bibir adik gue.
Sebelumnya gue tidak pernah mencium adik gue ini tetapi kali ini, ketika
nafsu setan semakin membahana, tidak sempurna kalau gue tidak mulai
melumat bibir dan lidah yang ada didalamnya. Tentu saja gue memulai
dengan mencium pipinya, terkadang tiba-tiba turun ke leher, ke dagunya
dan kemudian ke bagian bawah telinganya lalu baru ke bibirnya. Dan adik
gue tetap dalam keadaaan tertutup mata sembari sesekali mendengar
desahannya yang membuat gue semakin birahi. Tiba untuk sekarang
mengeksplorasi bagian bibirnya: dengan tangan gue pegang pipinya dan
mulai mencium bibirnya, merangsek masuk lidah gue untuk menyentuh
bibirnya tetapi entah kenapa dia tidak membiarkan bibirnya terbuka.
Tidak kehilangan akal, tangan gue berpindah kearah bagian short bawahnya
dan menekan bagian vaginanya dengan lembut. Ketika dia mengerang dengan
sentuhan tersebut, baru kemudian gue melihat ada celah bibirnya yang
terbuka dan langsung gue masukkan lidah gue kedalamnya. Sungguh, adik
gue ini belum pengalaman untuk berciuman. Bayangkan dia hanya membuka
bibirnya tetapi giginya tetap tertutup dengan rapat sehingga gue tidak
bisa untuk menjangkau lidahnya. Ini membuat gue semakin gemas dan
penasaran, sehiingga akhirnya kalau tadi gue dalam keadaan disamping
tubuhnya sekarang gue meletakkan tubuh gue keatas tubuhnya dan mencari
posisi yang pas untuk meletakkan posisi penis gue yang mengeras itu agar
bisa diletakkan diatas vaginanya. Gue gerakkan pahanya agar sedikit
terbuka sehingga selangkangannya terbuka agak lebar dan pada saat itulah
posisi penis gue taruh tepat diatas vaginanya. Mungkin tidak tepat
sekali, tapi itu cukup untuk membuat adik gue semakin bergairah dengan
sentuhan gesekkan penis gue disekitar vaginanya. Dan itulah kesempatan
ketika gue membisikkan kata:”Buka mulut kamu ‘de…” antara sadar dan
tidak dia melakukannya, maka lengkaplah sudah lidah gue mengulum
lidahnya dengan leluasa. Kadang menggigit bibirnya dengan lembut, kadang
menari-narikan lidah itu kebagian dalam mulutnya, mengulum lidahnya,
dan juga sembari penis dibawah tetap digesek-gesekan dengan irama
tertentu yang membuat bukan hanya dia mengerang tetapi gue juga
dibuatnya mabuk kepayang. Tetapi permainan belum lagi dimulai, ini semua
baru pemanasan. Karena ketika gue melihat adik gue mulai terbang dengan
serangan atas dan bawah, mulai gue menarik kaosnya pelan-pelan keatas
untuk membukanya. Tidak sulit untuk melakukan semua itu kalau wanita
sudah hampir setengah sadar dibuat seperti ini. Malahan dengan jelas
tangannya turut membantu untuk membuka kaosnya. Itulah yang membuat gue
bertambah berani. Pokoknya, yang terjadi, terjadilah. Ditengah malam
yang gelap dengan suasana hujan yang turun, kegairahan gue semakin
menjadi-jadi. Gelapnya malam tidak dapat menyembunyikan putihnya tubuh
dari adik gue ini, meski bra masih melekat diatas payudaranya. Gue mulai
menciumi sekujur tubuhnya meski bra menjadi penghalang gue untuk
menjilat putingnya. Desahan dan desahan terdengar tidak putusnya dan
saat itulah yang tepat untuk melucuti branya yang terkancing di bagian
punggungnya dan mencampakkannya dibawah ranjang. Ohhh… ketika bagian
tubuh atas telah dilucuti, hanya tinggal menunggu waktu untuk bisa
melepaskan semua penutup tubuhnya. Dan langkah pertama adalah melucuti
kaos gue sendiri dengan cepat dan segera merapatkan tubuh gue ke atas
tubuhnya. Biar dia merasakan sensasi kulit kita yang bertemu satu dengan
yang lainnya. Sementara gue dengan perlahan tanpa disadarinya sudah
juga membuka bagian celana gue beserta cd-nya sekaligus. Dalam keadaan
telanjang bugil, nafsu untuk menggauli adik sendiri semakin
menjadi-jadi. Bayangkan, hanya dengan menjilat putingnya, lalu tiba-tiba
naik ke bibirnya, sementara tangan langsung meremas-remas payudaranya,
desahan kecilnya, lama kelamaan menjadi keras dan mirip seperti sebuah
erangan merintih. Kencan dengan tidak menggunakan suara memang tidak
mengenakkan tapi gue memang sudah memasang taktik untuk tidak
menggunakan suara supaya dia tidak mendengar suara kakaknya dan
membangunkan dia dari ketidaksadarannya itu bahwa dia sedang digarap
oleh kakaknya sendiri. Yang gue lakukan hanya membalas erangannya dengan
erangan gue sendiri supaya dia juga terangsang mendengar suara gue yang
merintih-rintih kenikmatan. Tiba saatnya ketika gue harus mengerahkan
daya upaya agar bisa melucuti short dan cd yang dikenakan oleh adik gue
ini. Ini bukan pekerjaan sulit (gue sudah sering melakukannya pada
wanita-wanita lain sebelumnya) gue hanya cukup dengan sabar membuat dia
menggelinjang kenikmatan dengan sentuhan gue dan saatnya tiba ketika gue
tidak langsung membuka celananya tetapi justru menyelusupkan jemari gue
masuk kedalam cd-nya. Gue hanya meletakkan jari gue diatas cdnya dan
merasa pasti diatas vaginanya gue menekan dengan lembut, yang terjadi
sungguh sangat diharapkan, adik gue langsung memegang tangan gue dan
menahannya disana. Ini adalah sinyal positif: saatnya untuk segera
membuka shortnya. Dan itu gue lakukan dengan mudah sekali, karena adik
gue juga dengan cepat turut membantu membuka celana yang dikenakannya.
Tetapi gue tetap tidak mau terburu-buru untuk membuka cd-nya. Melihat
adik gue sudah 95% telanjang, dengan kemulusan yang tidak terkata, itu
sudah sangat menggairahkan buat gue. Tapi gue akan membuat bagaimana
supaya dia juga menginginkan permainan malam itu. Maka langkah
selanjutnya adalah, gue menaruh tubuh gue diatasnya dengan terlebih dulu
melebarkan selangkangannya, dan menjepitkan penis gue diantara kedua
pahanya dengan vagina yang masih terbungkus dengan cd yang dikenakannya.
Lalu kembali tangan gue menyusuri seluruh tubuhnya yang sudah nyaris
telanjang sembari mulut gue kembali menciumi leher, bawah telinga, bibir
dan kemudian mengulum putingnya yang mulai mengeras tetapi yang
sebetulnya membuat dia terlena adalah karena pada saat bersamaan,
dibagian bawah selangkangannya, penis gue naik turun diatas permukaan
cd-nya yang menutupi vaginanya. Menurut pengalaman sebelumnya, gue yakin
seyakinnya, kalau ini sudah terjadi, maka perempuan pasti akan memohon
supaya gue dengan cepat membuka cd mereka dan memasukkan penis gue
kedalam vagina mereka. Gue terus menggesek-gesek penis gue naik turun
diantara selangkangannya, sambil mendengar desahan nafsu yang tertahan
dari adik gue. Tapi sekian menit gue tunggu, dia tidak juga menurunkan
tangannya kebawah untuk menekan badan gue lebih dalam dan itu bisa saja
terjadi karena dia masih sungkan sebagai adik yang meminta jatah kepada
kakaknya walaupun dia sudah sangat menginginkannya. Maka yang gue
lakukan supaya permainan ini menjadi lebih menarik adalah, gue turunkan
setengah posisi cd yang dikenakannya dan memasukkan penis gue
kedalamnya. Gue sangat mengetahui bahwa itu tidak akan menembus
vaginanya, karena posisinya tidak sangat tepat, tapi memang itu gue
sengaja supaya dia merasakan nikmat yang setengah saja dan membuatnya
penasaran untuk merasakan lebih jauh lagi. Dan taktik itu berhasil
dengan suksesnya. Setelah gue menggesek-gesekkan penis gue diantara
jembut tipisnya, dia mulai merintih dengan menggoncang-goncangkan
tubuhnya secara perlahan, ke kiri kekanan dan berputar-putar. Sangat
erotis! Tidak pernah terbayangkan, adik gue yang masih kelas 1 SMU
melakukan hal ini. Seks itu memang naluri. Tidak perlu diajarkan
sebelumnya tetapi ketika gairah itu muncul, maka orang bisa melakukan
sesuatu yang mungkin tidak pernah direncanakan sebelumnya. Dan goyangan
dia semakin membuat gue belingsatan, terlebih ketika merasakan ada
cairan-cairan disekitar jembutnya itu. Tentu saja dia menggoyang karena
dia sedang mencari posisi yang pas agar penis gue bisa masuk kedalam
vaginanya. Itu naluri untuk mencari kenikmatan yang lebih! Tapi tidak
akan pernah bisa masuk penis gue kedalamnya kalau cd-nya belum terbuka
semuanya. Dan memang rencana gue adalah, ketika gue membuka sebagian
dari cd-nya, gue mau dia yang melakukan pekerjaan sisanya. Gue mau
membuat dia merasakan bahwa dia juga menginginkan kejadian malam itu.
Dan memang itulah yang terjadi kemudian. Dengan reflex yang cepat karena
mungkin setelah sekian lama bergoyang dan menggelinjang tetapi belum
merasakan penis gue masuk kedalam vaginanya, tiba-tiba saja dia
memelorotkan celana dalamnya kebawah dan langsung menekan pantat gue
dari belakang dengan kedua tangannya. Sabar…kembali gue harus bersabar…!
Gue yakin meskipun terlihat sudah mulai liar adik gue ini tapi
sesungguhnya gue percaya dia masih perawan. Gue pasti adalah orang
pertama yang akan memerawani dia malam itu tapi gue mau melakukan semua
itu dengan lembut dan berkesan. Dan tidak grasak grusuk seperti maunya.
Gue tidak mau dia trauma dengan kejadian pertama. Oleh karenanya, gue
tetap menahan pantat gue untuk tidak terdorong dengan tekanan tangannya
yang keras. Dia tentu saja belum berpengalaman sehingga tidak mengetahui
apa yang akan terjadi kalau gue langsung mencobloskan penis gue kedalam
vaginanya. Yang gue butuhkan adalah kesabaran dan kelembutan dalam
bercinta. Dan caranya adalah gue membisikkan kalimat:”Sabar ya, ‘de…”
Kalimat pertama yang terdengar dari gue sekali lagi, selain suara
erangan-erangan sebelumnya. Gue ingin memastikan bahwa dia sudah basah,
bahkan becek dengan cairan pelumas disekitar vaginanya. Ini adalah
pengalaman pertamanya. Dan gue harus meyakininya bahwa malam pertama ini
akan sungguh sangat berkesan dengan kenikmatan yang tak terkata. Oleh
karenanya, mulailah gue kembali menggesekkan penis gue diatas permukaan
vaginanya, sambil sesekali mencoba untuk memasukkan penis gue dengan
lembut. Yang terjadi adalah, dia mengerang kesakitan, dan itu pertanda
bahaya. Karena kalau sampai dia merasakan sakit lebih besar daripada
nikmatnya, maka otomatis, cairan pelumasnya akan berhenti keluar dan
akan menyebabkan vagina yang kering dan susah untuk dimasuki. Jadi yang
gue kerjakan adalah mengeluarkan segenap kemampuan untuk terus
membuatnya terangsang dengan lidah, tangan dan penis yang menjelajahi
seluruh tubuhnya. Semakin dia terangsang, semakin basah dan becek
disekitar vaginanya, dan itulah saat yang tepat untuk sekali-sekali
menghunjamkan penis gue kedalam vaginanya. Pertama-pertamanya agak sulit
untuk menembus keperawanan dari adik gue ini tetapi dengan kesabaran
gue melakukan semua ini dengan segenap hati. Seperti misalnya, kalau gue
anggap perlu, gue turunkan kepala gue kedaerah selangkangannya dan
kemudian tanpa ragu menjilat vaginanya. Jujur, gue sebetulnya jijik
melakukan hal ini tapi demi membuat agar dia terus terangsang, dengan
senang hati gue melakukan pengorbanan ini. Cukup lama untuk bisa
menembus hutan belantara keperawanan adik gue ini, tetapi dengan
rangsangan bertubi-tubi yang sudah dipersiapkan, yang mulanya masih
didepan, sekarang perlahan-lahan kontol gue sudah mulai menancap masuk
kedalam. Dan nikmat yang gue rasakan bukan karena penis yang sudah
menembus vaginanya tetapi justru karena erangannya yang merintih dan
gelinjangan tubuhnya yang erotis. Dari pengalaman sudah diketahui bahwa
tidak pernah penis bisa menikmati vagina dengan indahnya pada pertemuan
pertama. Yang penting, selama hantaman penis ke vagina adik gue itu
tidak membuatnya sakit yang parah sehingga membuatnya trauma untuk
bersenggama lagi, bagi gue itu sudah cukup berhasil. Dan malam itu
berakhir dengan tumpahan sperma gue disekitar perutnya tanpa merasakan
kenikmatan yang dahsyat seperti kalau gue bersetubuh dengan wanita
lainnya yang berpengalaman. Ada yang aneh ketika gue harus mengakhiri
permainan malam itu. Gue merasa aneh harus menyeka sperma diatas
tubuhnya dengan kaos gue dan harus membisikkan:”Pake bajumu ya ‘de…” dan
kemudian gue dengan berjinjit keluar dari kamarnya malam itu dengan
perasaan berdosa. Tapi dosa ternyata menyebar dengan cepat. Besoknya,
dengan sengaja gue tidak menjemput adik gue pulang walaupun sebetulnya
ada kesempatan. Gue tidak menginginkan bertemu dengan dia tapi tidak
mengetahui apa yang harus dibicarakan. Gua hanya mau bertemu dengan dia
dengan menggunakan bahasa tubuh saja. Dan itu artinya, pada malam
berikutnya, mumpung adik gue masih tidur sendiri, tunggu hingga jam satu
pagi, baru gue berani memberanikan diri untuk menyelinap ke kamarnya
dengan keyakinan, kali ini hanya pintu kamarlah yang menjadi tanda
diantara kita berdua. Kalau dia tidak menguncinya, itu berarti dia
memang menginginkan kedatangan kakaknya di tengah malam untuk mengulangi
hal yang pasti dianggapnya luar biasa tadi malam. Tapi kalau dia
mengunci kamarnya, itu berarti, kejadian tadi malam hanyalah kecelakaan
semata. Tentu saja sangat menegangkan untuk mengetahui apakah pintu
terbuka atau terkunci. Tetapi yang pasti, ketegangan itu sudah sangat
berkurang drastis karena gue sebelumnya malam itu sudah bermasturbasi
dengan suksesnya sebelum mengendap-endap menuju kamar adik gue. Dan
ketika gue membuka gagang pintu dan mendorongnya, ternyata pintu
bergerak kedalam, dan itu artinya…..jantung gue kini bergemuruh dengan
hebat! Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ternyata adik gue
sengaja tidak mengunci pintu kamarnya yang artinya, dia memang sedang
menunggu kakaknya yang cabul ini masuk kedalam kamar dan akan
melanjutkan permainanan malam sebelumnya yang belum mendapatkan
nikmatnya. Mungkin karena terlalu lama menunggu, adik gue memang
sepertinya benar-benar tertidur. Ini terlihat dari posisi tidurnya yang
terlentang. Dalam keadaan seperti ini, gue tidak mau membuang-buang
waktu lagi. Gue yakin sekarang bukan saatnya lagi untuk foreplay dengan
durasi yang lama. Gue dengan polosnya langsung membuka seluruh baju gue
dan celana beserta cd-nya. Gue merasa yakin, kali ini adalah permainan
seks yang memang bergayung sambut. Jangan membuang waktu lama untuk
hal-hal yang sudah dilakukan tadi malam. Sekarang hanya melanjutkan saja
apa yang telah terjadi pada malam sebelumnya. Yang dilakukan adalah,
dengan tubuh telanjang, langsung tidur disamping adik gue dan langsung
pelan-pelan menurunkan shortnya. Ada sedikit pergerakan darinya, tetapi
seperti antara sadar dan tidak sadar. Setelah shortnya dilucuti, jemari
gue menekan bagian vagina yang ditutupi cd-nya. Ada sedikit gerekan
menggelinjang. Dan kini tiba saatnya untuk untuk menciumi lehernya yang
tak terlindung sembari naik perlahan kearah bibirnya. Tidak ada
perlawanan. Malah sepertinya ketika bibir gue tiba di bibirnya, dia
sudah membuka bibirnya dengan otomatis menjulurkan lidahnya. Tunggu apa
lagi. Langsung melumat bibirnya sembari tangan kembali meremas
payudaranya yang tertutup kaos. Tidak sabar lagi, gue langsung menindih
tubuhnya dengan tubuhku dan seperti biasanya meletakkan posisi penis
tepat diatas vaginanya sambil menggesekkannya meski tertutup cd-nya. Gue
suka dengan gaya yang bikin penasaran ini. Karena kemudian adik gue
akan mulai menggoyangkan dengan pelan tubuhnya dan tanpa membuang waktu
gue langsung membuka kaos dan bra-nya. Gue sudah telanjang bulat dari
pertamanya tapi dia masih tersisa cd dan tugas gue selanjutnya adalah
memastikan bahwa dia akan benar-benar basah hingga becek sehingga
penelusuran lubang vagina oleh penis gue akan berjalan lebih nikmat dari
pada malam sebelumnya. Dan seperti taktik gue sebelumnya, gue tidak
akan pernah mau membuka cd wanita sebelum dia memang menginginkan untuk
dilucuti, bahkan lebih bagus lagi kalau dia sendiri yang melucuti. Jadi
yang gue lakukan adalah menggerayangi tubuhnya dengan lidah basah
sembari tangan terus meremas-remas payudaranya. Memastikan bahwa kedua
puting payudaranya menjadi keras adalah pekerjaan susah. Padahal menurut
pengalaman, disitulah letak seorang wanita benar-benar birahi.
Terkadang kita sentuh bagian kiri, mengeras tapi bagian kanannya tidak
dan begitu sebaliknya. Gue tidak mau menggarap seorang wanita sebelum
dia betul-betul menginginkannya. Dan ketika semua sudah berjalan dengan
sesuai rencana. Maka gue membisikkan kalimat:”Kita harus pindah ke
lantai, ‘de…” Sebetulnya ini adalah permintaan yang beresiko, karena
alam bawah sadarnya kembali terjaga sehingga dia bisa saja menolak
pindah. Tapi gue memang benar-benar sudah memperhitungkan segala sesuatu
dengan cermat. Gue tidak mau lagi hebat-hebatnya bergoyang dan
terganggu oleh karena bunyi derit tempat tidur yang bisa membangunkan
kakak dan keponakan gue. Langsung gue melemparkan selimut dan bantal
kebawah lantai dan menariknya turun kebawah. Dia hanya menurut saja dan
itu adalah anugrah. Sehingga dengan beralaskan selimut saja, walaupun
kerasnya lantai tidak mengurangi semangat kita berdua untuk memulai
petualangan yang lebih hebat dari sebelumnya. Dan itulah yang terjadi:
gue langsung kembali mencium bibir dan melumat lidahnya. Menindihnya
dengan tubuh gue yang langsung menyelipkan kontol diantara kedua
pahanya. Menggesekkannya dengan lembut sembari tangan memainkan payudara
beserta putingnya. Dalam hati gue bersyukur juga, menikmati tubuh mulus
adik gue ini seperti suatu mukjizat. Mana pernah ada pengalaman bisa
mengadakan hubungan seks dengan keluarga sendiri, meskipun itu hanyalah
adik tiri. Sepertinya takut dosa sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah
nafsu yang membara untuk menggarap tubuhnya ini dengan tekad untuk
memberikannya kepuasan yang tidak terkira. Mungkin karena sebelumnya
sudah masturbasi, sehingga permainan gue agak sedikit lembut dan penis
berdiri tidak begitu kencang. Dan ini sangat menguntungkan gue karena
gue jadi bisa mengendalikan permainan. Yang terjadi adalah, adik gue
memburu dengan sedikit malu-malu sementara gue seperti berkesan jual
mahal. Tapi sampai kapan ini akan bertahan? Ketika tiba saatnya ketika
gue mulai melucuti perlahan cd adik gue ini kebawah, nafsu birahi gue
seakan tiba-tiba muncul. Entah kenapa gue bertindak liar dengan menarik
cd itu dengan gigi gue kebawah dan kemudian langsung mengarahkan lidah
gue kearah vagina adik gue. Gue hanya menciumnya sesaat, karena memang
bukan ciri gue untuk menjilat vagina wanita, gue hanya mau memastikan
bahwa vaginanya cukup pelumas untuk segera ditancapkan penis gue
kedalamnya. Tapi itulah gue, selalu membuat wanita penasaran. Gue tetap
hanya menyenderkan penis gue keatas vaginanya tanpa bermaksud
memasukkannya sementara gue pura-pura sibuk untuk mengulum bibir dan
lidahnya sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangan gue. Justru adik
guelah yang sibuk menggoyangkan tubuhnya supaya kontol gue bisa
menghujam kemaluannya. Dan gue tidak membiarkan dia berlama-lama
melakukan itu karena gue kemudian berbisik kepadanya:”Kamu mau ‘de..”
dengan tenangnya gue bertanya. Seperti tersekat ditenggorakan
jawabannya:”Terserah kakak…” Inilah saatnya gue menunjukkan kepada adik
tirinya, siapa gue sebenarnya. Dengan sigap gue sekarang memegang kontol
gue dengan jari gue dan mulai membelai-belai permukaan vaginanya dengan
penis gue. Itu sangat membuat wanita manapun akan bergairah untuk
mengeluarkan lebih banyak lagi pelumas cairannya. Dan erangan yang
keluar dari adik gue semakin membuat gue semangat untuk terus
menggesek-gesekan kontol gue di atas permukaan vaginanya. Ketika dirasa
cukup licin, mulai pelan-pelan gue dorong kontol ini dengan tangan gue
masuk kedalam vaginanya. Itu cukup untuk membuat tubuh adik gue
terdorong kebelakang karena mungkin sakit dan nikmatnya bergabung
menjadi satu. Kalau sudah begitu gue akan menarik kembali keluar kontol
gue dan kemudian memasukkannya kembali perlahan. Kembali tubuh adik gue
terdorong kebelakang tetapi sekarang sudah tidak sekeras sebelumnya.
Dalam hati gue, ini harus menjadi lebih baik dari pada malam sebelumnya.
Lalu secara konstan, gue mulai memasuk-keluarkan kontol gue kedalam
setengah lubang vaginanya, hanya untuk memancing agar cairan pelumasnya
terus keluar dengan lancar. Itulah yang terjadi beberapa saat kemudian,
ketika gue mulai merasakan bahwa lubang ini sudah mulai lancar untuk
terus dipompa keluar masuk kontol gue. Akhirnya gue melepas jari gue
dari kontol dan membiarkan kontol gue mencari sendiri jalan masuk lobang
kedalam vagina adik gue dan sekarang saatnya tangan gue akan
memindahkan sentuhannya ke payudara adik gue. Sambil memeras
payudaranya, gue secara perlahan menggenjot pantat gue naik turun
membenamkan kontol gue kedalam memeknya. Bisa dipastikan terjadi erangan
yang lebih hebat dari sebelumnya keluar dari mulut adik gue, tetapi
dengan sigap gue tutup kepalanya dengan bantal agar erangannya tidak
terdengar. Dari yang pertamanya masih seret, tetapi lama kelamaan sudah
mulai lancar masuk keluarnya kontol gue didalam memek adik gue ini. Ini
tentu saja akan membuat gue untuk terus menuntunnya kepermainan yang
lebih nikmat lagi. Dan dimulailah gue mengangkat satu kakinya untuk
disilangkan dan gue juga menyilangkan kaki gue untuk mengajarkan padanya
ngentot dengan gaya bintang. Gue suka banget gaya ini dan gue mau adik
gue merasakannya juga. Gue merasa gaya ini betul-betul bisa menjebloskan
seluruh kontol kita kedalam memek wanita yang kita garap. Adik gue
hanya menurut saja permintaaan gue dengan tatapan yang aneh. Gue tetap
risih melihata tatapannya tapi selama dia masih bersedia untuk digarap,
gue tidak perduli. Maka selanjutnya yang terjadi adalah, gue mengocok
seluruh tubuh gue dengan gaya bintang kedalam memeknya. Tentu saja kali
ini dia bukan lagi mengerang dibuatnya tetapi sudah sedikit berteriak.
Gue terganggu dengan teriakannya sehingga gue menurunkan tempo
goyangannya tetapi yang terjadi justru dia yang mengocoknya dari bawah
sembari menutup sendiri mulutnya dengan kedua tangannya supaya teriakan
yang keluar tidak terdengar. Gila, gue bener-bener horny sekarang kalau
membayangkan apa yang terjadi pada waktu itu. Permainana dengan seorang
perawan selalu mengejutkan pada kali yang kedua. Tetapi yang lebih
mengejutkan disini adalah gue memerawani adik gue sendiri. Gilanya kita
bisa bersetubuh hingga berjam-jam malam itu, hingga dia bertanya, apakah
semua cowo seperti ini kuatnya. Gue hanya tersenyum tanpa memberitahu
bahwa rahasianya adalah gue sudah masturbasi sebelumnya, makanya tidak
muncrat-muncrat pada malam itu. Itu ternyata sangat berkesan didalam
dirinya, sehingga kemudian, diwaktu-waktu selanjutnya setiap ada
kesempatan yang memungkinkan kita berdua melakukan perbuatan bejat ini
tanpa ragu-ragu lagi. Bahkan pernah, ketika kita berdua mengikuti
camping bersama disuatu tempat, pada siang hari kita ngentot di dalam
tenda tanpa ada yang mengetahui. Siapa yang mau curiga, kalau mereka
tahu si Babe adalah adikku sendiri.Seorang adik tiri yang akhirnya
menjadi gila seks karena diajarkan berbuat nafsu bejat itu oleh kakaknya
sendiri yang berawal dari sentuhan di telinga.
- TAMAT-
- TAMAT-
Daftar Chapter